Awal pertama masuk Pondok Pesantren Darussalam ini, saya seperti seekor
semut yang buta, yang hanya mengandalkan anthena untuk mencari ilmu. Saya kira
imu yang saya dapat di MTs sudah cukup tinggi, nyatanya ? memang benar kata
hadits bahwa : lihatlah orang yang diatasmu ketika kau membandingkan ilmu, tapi
lihatlah orang dibawahmu ketika kau membandingkan harta.
Saya disini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan anak MTs di Pondok Darussalam ini, saaangat jauh berbeda. Mereka (anak MTs Darussalam) lebih dewasa dibandinkan saya, mereka lebih mandiri, mereka lebih pintar, mereka ebih segalanya dibandingkan dengan saya. Apalagi anak-anak Aliyahnya. Mereka sungguh hebat. Mereka dapat hidup tanpa sesosok orangtua disampingnya, nah saya ?
Minggu pertama saya di Pondok ,Saya menangis di WC seharian. bosen nangis di WC, saya pindah ke kamar menelungkup di kasur tanpa berbicara satu katapun kepada teman-teman. Setiap pagi, tak aneh jika menatap cermin, mata saya bengkak.
Minggu kedua, dari sinilah perjuangan saya dimulai. Minggu ini adalah minggu pertama saya melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan tanpa keluarga. Hari pertama saya puasa, sangat menyedihkan. Hari ini saya berbuka hanya dengan sebungkus sayur kentang, saya coba meminta sepiring nasi ke Dapur Umum, sayangnya tak ada seorangpun di Dapur Umum dan Dapur Umumnyapun tutup. Kemudian saya lari ke warung depan arsama Dewi Sartika dan membeli sebungkus es kelapa sebagai pengganjal lapar. Singkatnya, 1 minggu kemudian orangtua saya menengok saya di pondok. Ibu saya bertanya kepada saya “ric, kamu kenapa ? sakit ? kok ibu ingat terus ya ?” tanya nya. Saya pun menjawab dengan penuh kebohongan dan menahan air mata. “nggak kok bu, saya hanya kangen sama ibu sama bapa,” jawab saya. padahal dalam hati, saya meringik kesakitan mengingat hanya berbuka puasa dengan sebungkus kentang.
Menginjak bulan desember, saya mulai dikenal banyak orang lewat guru pengajian yang mengkaji tentang adabunnabawi, yang tak lain adalah pak hasan bisri, suatu malam yang tak akan pernah saya lupakan, pada malam itu, saya di suruh membacakan kitab didepan mimbar sendirian dengan ditatap ratusan pasang mata santri . dan sejak saat itulah saya mulai dihargai orang. Ternyataaaa, untuk dihargai orng itu susah sekali ya. Rata-rata mereka hanya memandang penampilan luar saja. Hmmm
Di bulan maret, saya mencoba mengikuti sangga theater faslah,
dan untuk pertama kalnya saya menginjak panggung gedung nadhwatul ummah dengan mempersembahkan sebuah drama tari,
mungkin mereka cukup terhibur. Namun hati ini tiba-tiba bergejolak ketika tiba-tiba teman-teman yang tidak suka pada saya, mengejek penampilan theater saya. Hati yang mulai bangkit inipun kmbali redup mendengar ejekkan mereka. Mungkin karena saya terlalu yakin .
Malahan ketika saya tanding basket, kakak kelas pada tidak suka terhadap saya, miris . tak tahu apa salah saya, tiba-tiba mereka membenci saya. Hingga saat ini, mereka masih tetap begitu. Tapiiiii, tak apa lah.saya anggap saja mereka belum dewasa, masih membenci adik kelasnya sendiri tanpa menyelesaikannya baik-baik.
ibu saya pernah menawarkan untuk pindah pesantren, tetapi rasa ini malu untuk pindah. Malu karena masuk pesantren Darussalam ini adalah cita-cita saya sejak kelas empat Sekolah Dasar. Dan akhirnya saya mencoba bertahan. Saya mencoba satu tahun dulu untuk beradaptasi di lingkungan pondok ini. 1 tahun sudah saya melewati semua ini dengan dibumbui dengan sakit fisik dan sakit batin.
Singkat cerita, kini saya sudah menginjak kelas XI IPA Pi 1, kelas yang sejak dulu saya idamkan . diawal tahun ini, saya ditimpa ujian bertubi-tubi, mulai dari ejekkan teman-teman, cemoohan, hingga di kucilkan. Tetapi, saya yakin dengan semua ujian itu, saya akan menjadi lebih kuat bila suatu saat nanti saya ditimpa ujian yang lebih berat dari semua ini. Saya jadikan semua cemoohan itu sebagai pondasi diri saya agar saya kuat dengan keaadaan lingkungan saya nanti.
Saya ucapkan terimakasih banyak kepada semua teman saya yang mengejek, mencemooh,dan menkucilkan saya. Karena berkat merekalah saya dapat bertahan hingga kini.
saya masih punya waktu 2 tahun lagi, saya harus kuat. Ya ! saya bisa ! saya pasti bisa ! insyaallah saya sukses ! amiiiin.
Mudah-mudahan dengan pengalaman yang telah saya lewatkan, dan perihnya hidup mandiri, saya bisa membawa hadiah terindah yang telah diidamkan oleh kedua orangtua saya,yang tak lain adalah KESUKSESAN dan cita-cita saya dapat tercapai, yaitu membahagiakan kedua orangtua saya dan saudara-saudara saya.
Amiiiiiiiiiiiiiiiiinn .
Saya disini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan anak MTs di Pondok Darussalam ini, saaangat jauh berbeda. Mereka (anak MTs Darussalam) lebih dewasa dibandinkan saya, mereka lebih mandiri, mereka lebih pintar, mereka ebih segalanya dibandingkan dengan saya. Apalagi anak-anak Aliyahnya. Mereka sungguh hebat. Mereka dapat hidup tanpa sesosok orangtua disampingnya, nah saya ?
Minggu pertama saya di Pondok ,Saya menangis di WC seharian. bosen nangis di WC, saya pindah ke kamar menelungkup di kasur tanpa berbicara satu katapun kepada teman-teman. Setiap pagi, tak aneh jika menatap cermin, mata saya bengkak.
Minggu kedua, dari sinilah perjuangan saya dimulai. Minggu ini adalah minggu pertama saya melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan tanpa keluarga. Hari pertama saya puasa, sangat menyedihkan. Hari ini saya berbuka hanya dengan sebungkus sayur kentang, saya coba meminta sepiring nasi ke Dapur Umum, sayangnya tak ada seorangpun di Dapur Umum dan Dapur Umumnyapun tutup. Kemudian saya lari ke warung depan arsama Dewi Sartika dan membeli sebungkus es kelapa sebagai pengganjal lapar. Singkatnya, 1 minggu kemudian orangtua saya menengok saya di pondok. Ibu saya bertanya kepada saya “ric, kamu kenapa ? sakit ? kok ibu ingat terus ya ?” tanya nya. Saya pun menjawab dengan penuh kebohongan dan menahan air mata. “nggak kok bu, saya hanya kangen sama ibu sama bapa,” jawab saya. padahal dalam hati, saya meringik kesakitan mengingat hanya berbuka puasa dengan sebungkus kentang.
Menginjak bulan desember, saya mulai dikenal banyak orang lewat guru pengajian yang mengkaji tentang adabunnabawi, yang tak lain adalah pak hasan bisri, suatu malam yang tak akan pernah saya lupakan, pada malam itu, saya di suruh membacakan kitab didepan mimbar sendirian dengan ditatap ratusan pasang mata santri . dan sejak saat itulah saya mulai dihargai orang. Ternyataaaa, untuk dihargai orng itu susah sekali ya. Rata-rata mereka hanya memandang penampilan luar saja. Hmmm
Di bulan maret, saya mencoba mengikuti sangga theater faslah,
dan untuk pertama kalnya saya menginjak panggung gedung nadhwatul ummah dengan mempersembahkan sebuah drama tari,
mungkin mereka cukup terhibur. Namun hati ini tiba-tiba bergejolak ketika tiba-tiba teman-teman yang tidak suka pada saya, mengejek penampilan theater saya. Hati yang mulai bangkit inipun kmbali redup mendengar ejekkan mereka. Mungkin karena saya terlalu yakin .
Malahan ketika saya tanding basket, kakak kelas pada tidak suka terhadap saya, miris . tak tahu apa salah saya, tiba-tiba mereka membenci saya. Hingga saat ini, mereka masih tetap begitu. Tapiiiii, tak apa lah.saya anggap saja mereka belum dewasa, masih membenci adik kelasnya sendiri tanpa menyelesaikannya baik-baik.
ibu saya pernah menawarkan untuk pindah pesantren, tetapi rasa ini malu untuk pindah. Malu karena masuk pesantren Darussalam ini adalah cita-cita saya sejak kelas empat Sekolah Dasar. Dan akhirnya saya mencoba bertahan. Saya mencoba satu tahun dulu untuk beradaptasi di lingkungan pondok ini. 1 tahun sudah saya melewati semua ini dengan dibumbui dengan sakit fisik dan sakit batin.
Singkat cerita, kini saya sudah menginjak kelas XI IPA Pi 1, kelas yang sejak dulu saya idamkan . diawal tahun ini, saya ditimpa ujian bertubi-tubi, mulai dari ejekkan teman-teman, cemoohan, hingga di kucilkan. Tetapi, saya yakin dengan semua ujian itu, saya akan menjadi lebih kuat bila suatu saat nanti saya ditimpa ujian yang lebih berat dari semua ini. Saya jadikan semua cemoohan itu sebagai pondasi diri saya agar saya kuat dengan keaadaan lingkungan saya nanti.
Saya ucapkan terimakasih banyak kepada semua teman saya yang mengejek, mencemooh,dan menkucilkan saya. Karena berkat merekalah saya dapat bertahan hingga kini.
saya masih punya waktu 2 tahun lagi, saya harus kuat. Ya ! saya bisa ! saya pasti bisa ! insyaallah saya sukses ! amiiiin.
Mudah-mudahan dengan pengalaman yang telah saya lewatkan, dan perihnya hidup mandiri, saya bisa membawa hadiah terindah yang telah diidamkan oleh kedua orangtua saya,yang tak lain adalah KESUKSESAN dan cita-cita saya dapat tercapai, yaitu membahagiakan kedua orangtua saya dan saudara-saudara saya.
Amiiiiiiiiiiiiiiiiinn .




Tidak ada komentar:
Posting Komentar